Minggu, 07 April 2013

Permainan Gobak Sodor



                                                      Permainan Gobak Sodor
Gobak sodor merupakan permainan tradisional masyarakat kita. Dikatakan gobak sodor karena permainan ini maju mundur melalui pintu-pintu. Dalam bahasa belanda istilah gobak sodor mungkin artinya sama dengan kata dalam bahasa inggris “Go Back through the Door”, sebagian menyebutkan galasin.
            Gobak sodor merupakan permainan beregu yang terdiri atas dua regu. Masing- masing regu biasanya terjadi dari 4-5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis kebaris terakhir secara bolak-balik dan untuk meraih kemenangan keseluruh anggota regu harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik. Permainan gobak sodor adalah sejenis permainan tradisional yang beregu dimana pemain yang berjaga berusaha menyentuh pemain lawan dengan menggunakan tangannya, sehingga pemain lawan tidak bisa melewati garis hingga garis terahir.
            Permainan gobak sodor ini biasanya menggunakan lapangan segi empat dengan ukuran 9 x 4m. Lapangan tersebut dibagi enam bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota regu yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota regu yang menjaga garis batas horizontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapat tugas untuk menghalangai lawan. Mereka yang berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota regu yang mendapat tugas untuk menjaga garis batas vertikal, maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak ditengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan. Selain itu diperlukan ketangkasan serta kekompakan dalam regunya mendapat kemenangan. Manfaat permainann gobak sodor (margusin) adalah:
1. Mengembangkan kecerdasan intelektual
1. Mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal 
2. Mengembangkan logika 
3. Mengembangkan kinestetik a
4. Keterampilan senantiasa terasah, terkondisi membuat permainan dari berbagai bahan yang telah tersedia disekitarnya.
5. Mengajarkan rasa nasionalisme, cinta tanah air, keterampilan dan strategi, interaksi sosial, sportifitas dan kejujuran.
            Berikut ini adalah gambar dari lapangan gobak sodor berikut dengan posisi para penjaga dan yang tidak berjaga.
 
Gambar 1. Gambar lapangan gobak sodor/ margusin dan posisi para pemain



Keterangan gambar
1.      Bulatan yang berwarna biru adalah pemain yang tidak berjaga dan bulatan yang berwarna orange adalah pemain yang berjaga.
2.      Lapangan akan dibagi menjadi beberapa bagian secara melintang dan secara membujur yang akan membelah daerah permainan menjadi 2 bagian jalur yang akan dilalui oleh sang “seledor” dan bisa bergerak dari ujung ke ujung.
3.      Pemain yang berjaga akan mengisi baris-baris melintang di lapangan.
4.      Lapisan terahir menentukan apakah lawan dapat keluar dari lapangan dan lapisan pertama menentukan apakah lawan dapat masuk ke lapangan.
5.      Jumlah level atau garis melintang akan sama dengan jumlah pemain di satu tim biasanya 4-5 orang. Kalau makin banyak pemain maka lapangannya akan semakin besar.
6.      Pemain yang tidak berjaga akan berusaha untuk masuk kedalam lapangan, lalu melewati semua level dan keluar dari ujung satunya lagi dan kemudian berusaha kembali untuk bisa melakukan goal.
7.      Saat salah satu permainan lawan dapat melakukan goal itu, maka satu babak selesai dan yang tidak berjaga menang mendapatkan nilai dan kemudian permainan diulang lagi tanpa ada perubahan posisi berjaga.
8.      Pemain yang tidak berjaga kalah bila ada salah satu anggotanya tersentuh oleh yang berjaga atau bila salah satu pemainnya keluar dari lapangan sebelah kiri atau kanan.
9.      Bila pemain yang tidak berjaga terkurung dan tidak bisa lepas maka dia boleh menyerah dengan begitu timnya kalah.



 Peraturan permainan gobak sodor yaitu:
1.    Semua pemain tim penyerang akan dikira mati jika salah seorang dari mereka disentuh oleh pemain-pemain tim bertahan.
2.    Pemain tim penyerang tidak boleh mundur kebelakang setelah melewati garis lapangan, ia dikira mati yang akan menyebabkan perubahan posisi di tim.
3.    Pasukan penyerang dikira mati jika terdapat pemainnya keluar dari garis lapangan.
4.    Pasukan penyerang dikira menang jika salah seorang dari pemainnya dapat melewati semua garis hingga kembali ke baris permulaan. Satu poin diberikan kepada tim ini dan permainan akan dijalankan kembali.
5.    Mana-mana pasukan yang dapat mengumpulkan poin tertinggi akan dihitung memenangkan pertandingan tersebut.

Selasa, 02 April 2013

Selasa, 26 Maret 2013

Manajemen POAC dalam Organisasi Kemasyarakatan /Perkumpulan




Secara umum, dunia manajemen menggunakan prinsip POAC. atau Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Prinsip manajemen ini banyak digunakan oleh organisasi dewasa ini untuk memajukan dan mengelola organisasi mereka. Terdapat banyak definisi dari manajemen menurut para ahli. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, aktualisasi, dan pengawasan kegiatan/ usaha secara sistematik dan efektif oleh para anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.Secara sederhana, Manajemen merupakan suatu proses tindakan atau seni perencanaan, mengatur, pengarahan dan pengawasan yang dinamis yang menggerakan organisasi mencapai tujuannya.Secara umum, ada empat fungsi manajemen yang sering orang menyebutnya “POAC”, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Dua fungsi yang pertama dikategorikan sebagai kegiatan mental sedangkan dua berikutnya dikategorikan sebagai kegiatan fisik. Suatu manajemen bisa dikatakan berhasil jika keempat fungsi di atas bisa dijalankan dengan baik. Kelemahan pada salah satu fungsi manajemen akan mempengaruhi manajemen secara keseluruhan dan mengakibatkan tidak tercapainya proses yang efektif dan efisien

Planning 

Dalam perencanaan ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Yaitu harusSMART yaitu Specific artinya perencanaan harus jelas maksud maupun ruang lingkupnya. Tidak terlalu melebar dan terlalu idealis. Measurable artinya program kerja atau rencana harus dapat diukur tingkat keberhasilannya. Achievable artinya dapat dicapai. Jadi bukan anggan-angan. Realistic artinya sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada. Tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Tapi tetap ada tantangan. Time artinya ada batas waktu yang jelas. Mingguan, bulanan, triwulan, semesteran atau tahunan. Sehingga mudah dinilai dan dievaluasi.

Organizing

Agar tujuan tercapai maka dibutuhkan pengorganisasian. biasanya diwujudkan dalam bentuk bagan organisasi. Yang kemudian dipecah menjadi berbagai jabatan. Pada setiap jabatan biasanya memiliki tugas, tanggung jawab, wewenang dan uraian jabatan (Job Description). Semakin tinggi suatu jabatan biasanya semakin tinggi tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. Dengan pembagian tugas tersebut maka pekerjaan menjadi ringan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Disinilah salah satu prinsip dari manajemen. Yaitu membagi-bagi tugas sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Actuating

Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan pelaksanaan kerja. Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja yang telah disusun. Kecuali memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan penyesuian. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.

Controlling 

Agar pekerjaan berjalan sesuai dengan visi, misi, aturan dan program kerja maka dibutuhkan pengontrolan. Baik dalam bentuk supervisi, pengawasan, inspeksi hingga audit. Kata-kata tersebut memang memiliki makna yang berbeda, tapi yang terpenting adalah bagaimana sejak dini dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pengorganisasian. Sehingga dengan hal tersebut dapat segera dilakukan koreksi, antisipasi dan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan situasi, kondisi dan perkembangan zaman. 

Senin, 11 Maret 2013

Manajemen Kritik


Umpan balik dalam proses komunikasi personal dan organisasi bisa bermakna positif dan negatif. Positif karena umpan balik digunakan untuk memperbaiki proses dan pencapaian tujuan program berupa kinerja individu dan organisasi. Dari sisi negatif, umpan balik bisa berupa desas-desus yang tidak diketahui derajad kebenarannya. Misalnya penyampaian kritik tanpa didasarkan fakta. Asal bunyi. Dalam prosesnya apakah   yang dikritik akan berespon sama? Belum tentu. Seperti juga respon terhadap jenis alunan suara musik; baik  yang lembut maupun yang keras dari musik rock.
Tiap orang akan berespon berbeda. Ada yang berespon senang, ada yang tidak dan ada yang cuek saja atau netral. Begitu pula respon terhadap isi kritikan. Pasti responnya beragam. Ada yang senang, ada yang tenang-tenang saja, dan ada pula yang merasa terganggu hingga marah atau emosional. Ada yang marah karena isi kritikan dan ada yang dongkol karena cara penyampaiannya. Biasanya atasan atau pejabat paling tidak tahan dikritik. Padahal seharusnya mereka memberi teladan untuk siap dikritik. Sebaliknya ada yang senang karena ada orang yang peduli atau perhatian terhadap sesuatu walau dilakukan lewat kritik. Paham seperti ini menganggap setiap kritik sekalipun sangat pedas pasti ada hikmahnya. Karena itu menurut paham ini terima sajalah setiap kritik dengan kebesaran hati. Karena kalau balik dilawan akan kontra produktif. Sia-sia saja.
Hemat saya sekurang-kurangnya ada tiga paham tentang kritik. Ada paham yang menganggap setiap kritik selalu bernuansa negatif. Kritik dianggap mengganggu tataran kelembagaan yang sudah dianggap mapan. Karena itu harus dibalas dengan tindakan represif. Tidak ampun;harus digilas. Ini biasanya terjadi pada sistem kelembagaan yang otoriter atau sentralistik. Dan cenderung defensif. Lalu paham kedua memandang kritik adalah fenomena yang biasa-biasa saja. Karena itu juga harus dihadapi secara biasa juga. Dengan kata lain tidak harus ditanggapi dengan emosi yang berlebihan. Bahkan tidak salahnya ditunjukkan  oleh wajah cerah. Paham ketiga justru kritik itu hendaknya dibudayakan. Dalam pengertian, kritik harus dikemas sedemikian rupa plus segala argumentasinya. Harus disertai dengan bukti-bukti faktual. Akan lebih baik lagi dengan memberi saran-saran jalan keluarnya. Paham ini dikemas dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia yang kritis-konstruktif dan terbiasa dengan keterbukaan.
Dalam dunia kerja, misalnya di perusahaan, umpan balik termasuk kritik adalah adalah hal yang biasa. Apakah itu terjadi pada  manajer terhadap karyawan, antarmanajer, dan antarkaryawan. Bisa dilakukan dalam bentuk pertemuan formal dan atau informal. Dalam konteks menjaga lingkungan kerja yang nyaman maka manajemen kritik harus diperhatikan. Jangan sampai kritik itu mengakibatkan pergeseran tajam antarkepentingan individu atau kelompok. Kalau tidak bisa dicegah maka akibat berikutnya adalah terganggunya hubungan kerja yang harmonis. Ujungnya adalah kinerja perusahaan bakal menurun.
Dalam manajemen kritik maka ada beberapa hal yang bisa diterapkan.Pertama, kritik hendaknya disampaikan  dalam waktu dan ruang yang tepat. Jangan sampai kritik dilakukan di depan umum. Dan hindari pula mengeritik ketika yang dikritik sedang dalam kondisi mental yang sedang tidak fit. Kalau dilanggar, yang dikritik merasa dipermalukan yang bakal berujung pada dendam. Dengan demikian sang pengritik harus memiliki empati tinggi. Kemudian yang kedua, kritik atau komen ditujukan pada kegiatan atau perilaku spesifik yang dikritik. Dengan kata lain jangan berupa sindiran-sindiran yang kurang jelas apa maknanya. Apalagi kalau bersifat provokasi. Bisa runyam jadinya. Ketiga,  kritik dapat diungkapkan sambil menghargai yang dikritik. Misalnya, “kalau saja anda hati-hati bekerja maka kerusakan produk tidak mungkin terjadi. Padahal saya tahu anda selalu peduli dengan mutu”. Bentuk yang keempat adalah setelah mengkritik manajer memberi penjelasan dimana letak kesalahan yang diperbuat karyawannya. Bahkan terjun langsung ikut membantu karyawan dalam proses pekerjaan bawahannya itu.  
Jadi intinya, manajemen kritik merupakan bagian dari proses belajar bagaimana menjadi individu yang bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya. Mengkritik yang elegan dicerminkan adanya rasa sportivitas. Dilakukan secara tulus demi perbaikan semua pihak. Dan juga tanpa sifat-sifatcontrast effect pada seseorang. Dengan demikian kritik itu sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang elok.
   

Sumber : http://ronawajah.wordpress.com/2008/07/03/manajemen-kritik/

Jumat, 08 Maret 2013

Raden Ngabehi Ronggowarsito




KOLOTIDO


Salah satu cuplikan karya sastra tembang "Sinom" dalam "Serat Kalatido" bab.8, seperti di bawah ini:
  • Amenangi jaman edan ewuh aya ing Pambudi
  • melu edan ora tahan
  • yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
  • kaliren wekasanipun
  • Dillalah karsaning Allah
  • Sakbeja-bejane wong kang lali
  • luwih beja kang eling lan waspada . .
Bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi:
  • Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak,
  • ikut gila tidak tahan
  • jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik,
  • akhirnya menjadi ketaparan.
  • Namun dari kehendak Allah,
  • seuntung untungnya orang yang lupa diri,
  • masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada.
Kemudian gubahan ini diakhiri dengan sebaris Gatra yang bersandiasma, berbunyi "bo-rong ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya". Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.
Masyarakat Jawa tidak akan gampang melupakan sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito. Tokoh yang hidup pada masa ke-emasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan 'warisan tak terharga' berupa puluhan serat yang memiliki nilai dan akses estika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta ditunjang bakat, mendudukkan ia sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta.
R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo . Kakeknya, RT Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal.Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari .
Sebagai putra bangsawan Burham memiliki seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko . Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan imajinasinya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati , pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha , dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang , bahkan pada Serat Sabda Jatiterdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri.
Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara ., adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta .. Saat kecil ia diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, karakter Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana.
Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga memiliki tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati Cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.
Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan 'klitikan' (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham bertemu dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi istrinya.
Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo / Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya.Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari.
Ketika kembali ke Pondok, kenakalan Bagus Burham tidak mereda. Karena kejengkelannya, maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan kondisi sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya.
Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi teman-temannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara . Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang sangat berguna baginya.Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata , untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu kejahatan atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani. Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:

Pertama: Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras.

Kedua: Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT.Sastranagara terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa . Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa.Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa . Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa.

Ketiga: Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman diperoleh dari Gusti Pangeran harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jaya-kawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom , atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom.
Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya.Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.
Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas Ngabehi Sarataka , pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita , yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti CF Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi . Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur.Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani.
Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24. Inalilahi waina ilahi rojiun. *

Kamis, 07 Maret 2013

SUBOSUKAWONOSRATEN

SUBOSUKAWONOSRATEN, apa itu? 

Orang di luar wilayah eks Karesidenan Surakarta mungkin menerka-nerka itu adalah gelar yang diberikan oleh Keraton Surakarta Hadiningrat atau Mangkunegaran kepada seseorang yang dianggap berjasa.

Subosukawonosraten adalah sebuah singkatan dari gabungan nama daerah, yakni Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.
Di telinga kata itu memang terdengar asing. Di otak sulit diingat. Apalagi bagi orang-orang tua. Singkatan tersebut terlalu panjang. Padahal nama itu sudah "diekspor" ke Jerman ketika para pejabat daerah itu diundang sebuah lembaga konsultan pembangunan ekonomi kewilayahan dari negara itu untuk mengunjungi negara yang dipimpin oleh Kanselir Gerhard Schroeder.

Singkatan itu dibuat dengan tujuan antara lain untuk memajukan daerah di eks Karesidenan Surakarta. Beberapa daerah sekitar Kota Solo ingin maju bersama dalam satu wadah. Dengan menggabungkan nama daerah dalam satu wadah memudahkan cara "menjual" secara serentak, tidak sepotong-sepotong atau daerah per daerah. 

Membentuk brand image memang bukan pekerjaan mudah. Butuh waktu lama. Belum lagi biaya. "Kenapa harus Subosukawonosraten? Nama itu tak menjual. Nama itu ndesani," ujar teman. Ia menyarankan agar "Subosukawonosraten" diganti saja dengan "Solo Raya". Nama itu lebih singkat sehingga mudah dihafal. Namun yang lebih penting lagi nama Solo sudah terkenal di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. Nama Solo sudah melegenda.